Economic23 views

Perkembangan Ketahanan Pangan & Sandang Indonesia lima tahun terakhir (2020–2025)

Brite Owner
Perkembangan Ketahanan Pangan & Sandang Indonesia lima tahun terakhir (2020–2025)
iklan horizontal 2

Britenews — Ketahanan pangan dan sandang menjadi dua pilar utama bagi stabilitas sosial-ekonomi Indonesia selama lima tahun terakhir. Mulai dari pandemi COVID-19 hingga tantangan global 2025, pemerintah dan pelaku industri melakukan berbagai langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan dan daya beli masyarakat dalam dua sektor penting ini.

Ketahanan Pangan Indonesia: Tantangan & Kemajuan (2020–2025)

2020: Awal masa pandemi — pangan sebagai sektor penopang
Tahun 2020 menjadi fase penting bagi ketahanan pangan nasional. Ketika sektor ekonomi lain mengalami kontraksi tajam akibat pandemi, pertanian Indonesia tetap tumbuh positif, dengan neraca perdagangan pertanian justru menunjukkan surplus ekspor komoditas pertanian, termasuk produk perkebunan seperti minyak sawit. Ini menjadi pencapaian penting dalam menjaga ketersediaan pangan domestik di tengah gejolak global.

2021–2022: Ketersediaan dan akses pangan terus menjadi fokus
Pemerintah menetapkan target indeks ketahanan pangan untuk memperkuat ketersediaan pangan, keterjangkauan, kualitas nutrisi, dan diversifikasi konsumsi pangan rakyat. Indeks ketahanan pangan Indonesia sempat menunjukkan tren peningkatan sejak dekade sebelumnya. Meski demikian, tantangan seperti prevalensi stunting dan disparitas akses pangan di daerah tetap menjadi fokus utama kebijakan publik.

2023–2024: Inisiatif sosial & distribusi pangan
Program rancangan pemerintah, termasuk inisiatif pemberian makanan bergizi gratis kepada anak sekolah dan ibu hamil, menjadi strategi baru dalam menekan malnutrisi dan stunting. Program ini dirancang untuk menjangkau puluhan juta anak di seluruh Indonesia dengan dukungan anggaran besar jangka panjang hingga 2029.

2025: Produksi & harga beras — antara surplus dan tekanan pasar
Tahun 2025 mencatat produksi beras diproyeksikan melampaui kebutuhan nasional di angka sekitar 34,6 juta ton, menandakan peningkatan kapasitas produksi nasional dibanding kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton. Namun situasi pasar tidak sepenuhnya stabil: harga beras mencapai rekor tinggi meski stok dan panen melimpah, dipicu oleh kebijakan harga minimum pembelian pemerintah serta kendala distribusi dan kualitas gudang.

Kesenjangan Wilayah Ketahanan Pangan
Data 2025 menunjukkan disparitas ketahanan pangan antarwilayah: beberapa provinsi memiliki skor ketahanan sangat baik sementara daerah lain masih rentan, sebuah tantangan struktural yang terus diperbaiki oleh pemerintah melalui alokasi anggaran dan program pembangunan pertanian lokal.

 

Perkembangan Industri Sandang (Tekstil & Pakaian) 2020–2025

2020–2021: Ketahanan industri di masa awal pandemi
Sektor tekstil dan sandang menjadi salah satu industri penting yang diuji ketika pandemi COVID-19 mengguncang permintaan global dan mengganggu rantai pasok. Selama periode ini, pertumbuhan industri masih berusaha stabil meskipun banyak tantangan dari sisi konsumsi dan logistik.

2022–2023: Fokus pada circular economy & produksi lokal
Pemerintah memasukkan sektor pangan dan tekstil dalam rencana circular economy plan, sebagai bagian dari prioritas industri nasional — menempatkan sandang bersama pangan, elektronika, dan material bangunan sebagai sektor strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

2024–2025: Kebijakan untuk menjaga industri tekstil
Pada 2025, pemerintah memperkenalkan peraturan baru tentang impor pakaian dan aksesori guna menjaga ruang gerak industri domestik serta meningkatkan kualitas pengawasan barang di perbatasan. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi dominasi produk impor murah dan mendorong produksi dalam negeri.

Selain itu, Indonesia menggalang kesepakatan perdagangan (IEU-CEPA) untuk memperluas akses ekspor tekstil ke pasar besar seperti Uni Eropa, yang menyerap sekitar 30% permintaan global produk tekstil Indonesia.

Tantangan Industri: Tekanan global & persaingan
Meski ada peluang baru, sektor tekstil nasional menghadapi tekanan besar dari lonjakan impor murah dan pengurangan produksi di beberapa pabrik besar, bahkan beberapa perusahaan terkemuka mengalami kebangkrutan dan PHK pekerja. Hal ini mencerminkan bahwa ketahanan sandang masih perlu diperkuat melalui insentif industri, peningkatan nilai tambah, dan kebijakan perdagangan yang lebih efektif.

Pertumbuhan Investasi & Penyerapan Tenaga Kerja
Sebagai usaha menambah kekuatan industri sandang domestik, pemerintah menyiapkan kredit investasi untuk menutupi sebagian bunga pinjaman bagi sektor industri padat karya seperti tekstil dan barang kulit. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kemampuan modal kerja dan memacu penyerapan tenaga kerja.


Kesimpulan

Ketahanan Pangan
Dalam kurun 2020–2025, Indonesia berhasil mempertahankan produksi pangan nasional — terutama beras — di atas kebutuhan domestik meskipun dihadapkan dengan tantangan harga dan distribusi. Upaya pemerintah dalam program sosial, peningkatan produksi pertanian, dan penanganan disparitas wilayah terus menjadi prioritas kebijakan nasional.

Industri Sandang
Sektor sandang mengalami dinamika yang lebih kompleks: dari tantangan pandemi hingga tekanan global pada 2025, industri ini butuh dukungan kebijakan perdagangan, peningkatan daya saing, dan investasi untuk mempertahankan serta memperluas pasar ekspornya.

Secara keseluruhan, Indonesia menunjukkan kemajuan dalam ketahanan pangan dengan beberapa tantangan harga dan akses, dan di sisi sandang, usaha penguatan industri masih berjalan meskipun menghadapi tekanan eksternal dan kebutuhan reformasi struktural.

 

Sumber berita  : Kompas, Reuters, Antara News, broadsheet.asia, AP News

iklan horizontal 5

Related Articles