Dari Ruang Kuliah Psikologi ke Panggung Konser: Karya Faturrachman Rizal di UPH New Music 2025
TANGERANG – Panggung UPH New Music Festival 2025 menjadi saksi sebuah momen pementasan perdana (world premiere) yang unik dan sarat makna. Sebuah karya musik kamar berjudul "Aku Sendirian, ya? A Psychological Portrait in Three Movements" sukses dibawakan, dan sorotan utama tertuju pada komponisnya, Muhammad Faturrachman Rizal, yang akrab disapa Fatur.
Yang membuat pementasan ini begitu istimewa adalah latar belakang sang komponis.
Jembatan Antara Psikologi, Hukum, dan Seni
Berbeda dari komponis lain di festival tersebut, Fatur bukanlah mahasiswa yang menempuh pendidikan di Conservatory of Music. Ia adalah seorang mahasiswa yang menekuni dua bidang studi yang menantang sekaligus, yakni Psikologi dan Hukum.
Latar belakang akademis Fatur di bidang psikologi inilah yang menjadi fondasi intelektual dan emosional utama dari karyanya. Ia tidak hanya menciptakan musik; ia secara efektif menerjemahkan pemahaman klinis dan teoretisnya tentang penderitaan batin dan kondisi mental manusia ke dalam bahasa komposisi musik.
Keterlibatan Fatur dalam festival musik bergengsi ini menunjukkan bakat lintas disiplin yang luar biasa, menjembatani dunia ilmu sosial yang analitis dengan dunia seni yang ekspresif.
Potret Psikologis dalam Tiga Bagian
Karya "Aku Sendirian, ya?" adalah manifestasi langsung dari studi psikologi Fatur. Komposisi ini digambarkan sebagai "potret psikologis" yang secara gamblang mengeksplorasi dunia batin individu yang berjuang melawan depresi, kecemasan, dan halusinasi pendengaran—tema-tema yang ia pelajari secara mendalam.
Untuk mewujudkan pengalaman fragmentasi psikologis ini, Fatur menggunakan berbagai teknik komposisi modern secara efektif:
-
Instabilitas Tonal dan Pergeseran Birama: Menciptakan rasa disorientasi, kepanikan, dan ketidakstabilan mental.
-
Gestur Fisik: Para musisi tidak hanya memainkan alat musik, tetapi juga diinstruksikan untuk melakukan gestur seperti hentakan kaki dan bisikan "shushing", yang secara brilian meniru pengalaman invasif dari halusinasi pendengaran.
Komposisi ini terbagi dalam tiga bagian (movements) yang mengalir, menceritakan narasi emosional yang rapuh:
-
I. Kenapa suara-suara itu datang? (Menggambarkan kebingungan dan teror).
-
II. Aku hanya ingin tenang… (Upaya mencari kedamaian yang gagal dan runtuh).
-
III. Suara itu belum pergi (Karya berakhir tanpa resolusi, menyimbolkan perjuangan kesehatan mental yang seringkali terus berlangsung).
Pementasan yang Memukau
Visi psikologis Fatur ini berhasil dihidupkan dengan penuh penghayatan oleh ansambel J Modern Quartet (Glen Afif Ramadan, Saynediva Al Fatah Putra, Galih Yoga Pratama, Gian Nugra Adanta) bersama musisi tambahan (Victoria Chang pada flute dan Idam D. Lawolo pada clarinet).
Seluruh pementasan dipimpin secara presisi oleh konduktor Sarah Charista, M.A., yang berhasil membawakan partitur kompleks ini menjadi sebuah pengalaman audio yang imersif dan menggugah secara emosional. Karya Fatur ini membuktikan bahwa inovasi artistik terbesar seringkali lahir dari persimpangan berbagai disiplin ilmu.
Related Articles
Wajah Baru, Panggung Dunia Musisi Indonesia yang Guncang Internasional di 2026!
January 21, 2026
Musik 2025 Jadi Bahasa Anak Muda Dari Lagu Viral TikTok hingga Chart Global
December 29, 2025
Musik Dunia dan Lokal 2025: Tren Popularitas dan Dominasi Platform Digital
December 22, 2025
Coachella 2024 Harus Membayar Denda Rp 450 Juta Karena Lana Del Rey
November 19, 2025
