International25 views

Bara Tua di Perbatasan: Sejarah Perselisihan Thailand-Kamboja dan Pecahnya Perang Besar 2025

Brite Owner
Bara Tua di Perbatasan: Sejarah Perselisihan Thailand-Kamboja dan Pecahnya Perang Besar 2025
iklan horizontal 3

BRITENEWS, PERBATASAN – Hubungan antara dua negara bertetangga di Asia Tenggara, Thailand dan Kamboja, kini berada di titik terendah dalam satu dekade terakhir. Konflik yang berakar pada sengketa wilayah sejak era kolonial kembali meledak menjadi perang terbuka di sepanjang garis batas 817 kilometer, memaksa ratusan ribu warga mengungsi dan menelan korban jiwa di kedua belah pihak.

Akar Konflik, Peta Kolonial dan Simbol Kebanggaan

Perselisihan ini bukanlah hal baru. Benih konflik telah tertanam sejak awal abad ke-20, tepatnya melalui Perjanjian Prancis-Siam 1904-1907. Saat itu, Prancis (sebagai penguasa kolonial Kamboja) membuat peta yang menempatkan Kuil Preah Vihear di wilayah Kamboja. Namun, Thailand (saat itu Siam) berargumen bahwa secara geografis, kuil tersebut berada di wilayah mereka berdasarkan garis batas alami pegunungan Dangrek.

Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) pada tahun 1962 dan dipertegas kembali pada 2013 telah memutuskan bahwa Kuil Preah Vihear adalah milik Kamboja, ketegangan atas "zona abu-abu" atau wilayah seluas 4,6 km² di sekitar kuil tersebut tidak pernah benar-benar padam. Bagi kedua negara, wilayah ini bukan sekadar tanah berbatu, melainkan simbol kedaulatan dan kebanggaan nasional yang sangat sensitif.

Kronologi Eskalasi 2025, Dari Gesekan ke Perang Terbuka

Tahun 2025 menjadi babak kelam bagi diplomasi kedua negara. Berikut adalah garis waktu runtuhnya perdamaian:

  • Awal 2025: Ketegangan mulai memanas setelah insiden di Prasat Ta Muen Thom, di mana tentara Thailand melarang warga Kamboja melakukan aktivitas simbolis di situs tersebut.
  • Juli 2025: Bentrokan militer pertama pecah. Thailand mengerahkan jet tempur F-16, sementara Kamboja membalas dengan peluncur roket BM-21. Meski sempat ada gencatan senjata singkat pada 28 Juli, situasi tetap rapuh.
  • Oktober 2025: Di bawah tekanan internasional dan mediasi Malaysia serta Amerika Serikat, sebuah kesepakatan damai ditandatangani di Kuala Lumpur.
  • Desember 2025: Kesepakatan tersebut runtuh total. Pada 8 Desember, baku tembak hebat kembali terjadi setelah dua tentara Thailand terluka akibat ranjau darat yang dituding baru dipasang oleh militer Kamboja.

Update Terkini, Kondisi Perang per Desember 2025

Hingga pekan terakhir Desember 2025, pertempuran dilaporkan terus meluas. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Britenews:

  1. Eskalasi Militer: Perang kini tidak hanya terjadi di darat, tetapi meluas ke wilayah laut di Teluk Thailand. Angkatan Laut kedua negara dilaporkan mulai melakukan patroli agresif di wilayah perairan yang tumpang tindih.
  2. Korban dan Pengungsi: Sedikitnya 80 orang (militer dan sipil) dilaporkan tewas sejak awal Desember. Lebih dari 500.000 warga di sepanjang perbatasan telah dievakuasi ke pusat-pusat penampungan darurat.
  3. Kegagalan Diplomasi: Pertemuan mendadak para menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur pada 22 Desember 2025 belum membuahkan hasil konkret. Thailand menetapkan syarat ketat bagi gencatan senjata, termasuk penarikan seluruh ranjau darat oleh Kamboja.
  4. Tekanan Global: Presiden AS Donald Trump dan Ketua ASEAN 2025 (Malaysia) terus mendesak kedua pihak untuk kembali ke kesepakatan Kuala Lumpur, namun di lapangan, artileri berat masih terus menggema.

Perang Propaganda dan Nasionalisme

Versi Gemini melihat bahwa konflik ini diperkeruh oleh "perang propaganda" di media sosial dan kebangkitan sentimen nasionalisme ekstrem di dalam negeri masing-masing. Di Thailand, isu perbatasan digunakan sebagai instrumen politik domestik, sementara di Kamboja, mempertahankan setiap inci tanah perbatasan dianggap sebagai harga mati bagi eksistensi rezim.

Dunia kini menanti apakah diplomasi Asia Tenggara mampu meredam bara di perbatasan ini, ataukah tahun 2026 akan dibuka dengan perang yang lebih besar di jantung Indochina.

iklan horizontal 5

Related Articles