International25 views

Dunia di Ambang Perang Dunia Ketiga, Alarm Global dan Sikap yang Perlu Diambil Indonesia

Budi Brite
Dunia di Ambang Perang Dunia Ketiga, Alarm Global dan Sikap yang Perlu Diambil Indonesia
iklan horizontal 3

Beberapa tahun terakhir, dunia terasa makin tegang. Konflik bersenjata bukan lagi isu regional semata, melainkan rangkaian peristiwa global yang saling terhubung. Perang Rusia–Ukraina yang belum usai, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, memanasnya Laut China Selatan, hingga rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok—semuanya menciptakan satu kesan yang sama: dunia sedang berada di persimpangan berbahaya.

Tak sedikit analis menyebut kondisi ini sebagai “pra-Perang Dunia Ketiga”. Meski istilah itu terdengar ekstrem, faktanya eskalasi militer, perlombaan senjata, dan perang proksi (proxy war) semakin nyata. Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan deklarasi resmi, melainkan lewat sanksi ekonomi, serangan siber, disinformasi, hingga konflik terbatas yang bisa membesar kapan saja.

Perang Modern: Tak Selalu dengan Senjata

Jika Perang Dunia I dan II identik dengan tank dan bom, konflik global hari ini jauh lebih kompleks. Perang ekonomi, perang teknologi, dan perang informasi menjadi senjata utama. Negara bisa lumpuh bukan karena serangan militer langsung, tetapi karena mata uangnya jatuh, sistem digitalnya diretas, atau masyarakatnya terbelah oleh hoaks dan propaganda.

Inilah yang membuat situasi global saat ini berbahaya: batas antara damai dan perang menjadi kabur.

Indonesia Tidak Netral karena Diam, tapi Aktif karena Prinsip

Lalu, di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian ini, apa yang sebaiknya dilakukan Indonesia?

Sejak awal, Indonesia memiliki fondasi kuat dalam politik luar negeri: bebas dan aktif. Bebas berarti tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun. Aktif berarti terlibat dalam menciptakan perdamaian dunia. Prinsip ini bukan sekadar slogan sejarah, melainkan strategi yang sangat relevan hari ini.

Beberapa langkah penting yang perlu diperkuat Indonesia antara lain:

  1. Memperkuat Diplomasi, Bukan Provokasi
    Indonesia harus terus memainkan peran sebagai jembatan dialog, baik di ASEAN, G20, maupun forum internasional lain. Dalam dunia yang penuh ego kekuatan besar, suara negara yang konsisten menyerukan perdamaian justru menjadi sangat berharga.

  2. Ketahanan Nasional adalah Kunci
    Ancaman global bukan hanya soal militer, tapi juga pangan, energi, dan ekonomi. Indonesia perlu memastikan ketahanan di sektor-sektor strategis agar tidak mudah terguncang oleh krisis global.

  3. Kemandirian Teknologi dan Informasi
    Di era perang siber dan disinformasi, literasi digital dan kedaulatan data menjadi bagian dari pertahanan negara. Masyarakat yang kritis dan teredukasi adalah benteng pertama sebuah bangsa.

  4. Peran Aktif Generasi Muda
    Anak muda Indonesia perlu memahami isu global, bukan untuk takut, tetapi untuk sadar. Dunia ke depan akan dipimpin oleh generasi yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dan kampus. Kesadaran global adalah modal penting agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton sejarah.

Menjaga "Nilai Kemanusiaan" di Tengah Ketegangan

Di atas segalanya, Indonesia perlu terus mengedepankan nilai kemanusiaan. Perang selalu dimulai oleh elit, tetapi korbannya adalah rakyat sipil. Sikap tegas terhadap penjajahan, pelanggaran HAM, dan kekerasan terhadap warga sipil harus tetap menjadi kompas moral bangsa. Apakah Perang Dunia Ketiga benar-benar akan terjadi? Tidak ada yang tahu. Namun satu hal pasti: dunia sedang tidak baik-baik saja. Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak boleh panik, tapi juga tidak boleh lengah. Dengan diplomasi yang kuat, ketahanan nasional yang kokoh, dan masyarakat yang sadar global, Indonesia bisa tetap berdiri tegak—bukan sebagai negara yang terjebak dalam konflik, tetapi sebagai bangsa yang berkontribusi menjaga perdamaian dunia.

Karena sejatinya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya di senjatanya, tapi di kebijaksanaannya.

#BelajarBerkembangBarengBrite

iklan horizontal 1

Related Articles